Apa ilmu yang mendekatkan diri pada Allah itu? Jawaban dari pertanyaan ini, apapun itu, kadang dibuat bahan nyinyir oleh orang tertentu terhadap ilmu lain yang dianggap bukan jawaban yang tepat.
Ambil contoh ilmu kalam. Ada yang berkata bahwa ilmu kalam hanya ilmu
bacot, tak membuat takut pada Allah bertambah. Debat semalaman tanpa bertambah
ketakwaan pada Allah. Ok, anggap saja benar.
Kita ganti ke ilmu fikih. Ada yang berkata bahwa ilmu fikih itu kering,
gersang, hanya membahas hukum dunia dan berdebat soal perbedaa pendapat. Ilmu
ini juga tak dapat membuat semakin takut pada Allah. Ok, anggap saja benar.
Kita ganti ke ilmu tasawuf. Ada yang berkata bahwa ilmu ini juga tak jelas
betul apa gunanya. Untuk memperbaiki akhlak dan menyucikan hati tak perlu
belajar ilmu ini. Malah yang belajar ilmu ini tampak sibuk dengan
simbol-simbol, aksesoris seperti baju, sorban, Tasbih, tongkat dan amaliyah
yang bisa diperdebatkan dalilnya. Tingkahnya banyak juga yang tak tampak makin
takut pada Allah tapi justru tampak makin suka dipuji sebagai sufi yang eksentrik.
Ok anggap saja ini benar.
Ketiga ilmu di atas adalah inti ajaran islam yang meliputi islam, iman
dan Ihsan. Tapi itu pun masih bisa dinyinyiri, apalagi ilmu lainnya.
Lalu ilmu apa yang mendekatkan diri dan menambah rasa takut pada Allah?
Jawaban paling adil adalah semua ilmu dapat mendekatkan diri dan menambah rasa
takut pada Allah selama dipakai dengan hati yang bersih dan iman kepada Allah.
Tentunya kecuali ilmu sihir, ilmu judi dan semacamnya.
Seseorang yang belajar ilmu matematika, biologi, bahasa atau apapun bisa
jadi ia menemukan jalan dalam ilmu itu untuk mempertebal imannya kepada Allah.
Apalagi belajar ilmu agama yang memang didesain untuk itu. Namun ada juga orang
yang makin tinggi ilmu sainsnya malah makin mantap jadi ateis sebagaimana ada
juga orang yang makin tinggi ilmu agamanya malah makin pintar membungkus
kebobrokan tingkah lakunya dengan dalil agama. Ini berarti bukan ilmu apa yang
jadi masalahnya tapi hati macam yang dia punya.
Beragam kritik bahwa ilmu A, ilmu B, ilmu C dan lain-lain dianggap tak
dapat mendekatkan diri dan menambah rasa takut pada Allah biasanya muncul dari
dua jenis orang:
Pertama, jenis guru yang sedang memberikan nasehat khusus bagi muridnya
dengan karakter tertentu. Kadang ada murid yang memang tak cocok belajar ilmu
kalam sehingga dia bilang padanya bahwa ilmu kalam tak berguna sehingga cukup
ajaran tauhid paling dasar saja. Ada juga yang tak cocok dengan ilmu fikih
tingkat tinggi sehingga dibilang tak perlu belajar fikih tinggi-tinggi tetapi
cukup fokus pada shalat, puasa dan amaliyah dasar saja. Demikian seterusnya
disesuaikan dengan kebutuhan murid. Yang demikian ini bukan nyinyir pada ilmu
tertentu, tapi memang menyesuaikan kebutuhan dan kemampuan murid agar tak malah
berefek negatif.
Kedua, jenis orang yang gengsi. Ia sebenarnya tak mampu menguasai suatu
ilmu lalu ia bilang bahwa ilmu itu tak berguna dan tak mendekatkan diri pada
Allah. Kritik itu sejatinya cara menyembunyikan ketidakmampiannya sendiri. Ini
adalah kebanyakan kasus yang terjadi di dunia maya yang bising ini.
Saya tahu orang-orang yang mengkritik ilmu kalam sebagai ilmu bacot yang
tak berguna, nyaris semuanya memang tak mampu menalar dengan baik penjelasan
ilmu kalam. Demikian juga yang mengkritik ilmu fikih, ilmu tasawuf, ilmu
biologi, matematika, fisika, dan lainnya memang terlihat betul awam dalam ilmu
yang dikritiknya. Karena keawaman itulah makanya ia tak dapat melihat keutamaan
suatu ilmu sehingga hanya keluar kalimat nyinyir dari mulutnya. Padahal tak ada
ilmu yang tak berguna, kecuali ilmu sihir dan sejenisnya itu.
Jadi, silakan belajar ilmu apa saja yang positif, baik itu ilmu agama
atau ilmu umum. Pelajari dengan baik dan bersihkan hati, maka jalan menuju
Allah akan terhampar luas.
Oleh: Abdul Wahab Ahmad

0 Komentar