Kembali kita bahas yang ringan-ringan khas obrolan santri. Kali ini kita bahas istilah "khatamun nabiyyin" yang ada dalam al-Qur'an ayat al-Ahzab: 40. Dulu waktu ngaji di pondok, saya ingat istilah ini diartikan berbeda-beda sebagai berikut:
1. Pemungkas para nabi atau nabi paling akhir
2. Cincin para nabi
3. Segel para nabi
Mana yang benar? Semuanya ada benarnya.
Kata "Khatam" memang bisa diartikan yang paling akhir. Dari sini kemudian dalam bahasa indonesia terserap kata "khatam" sebagai ungkapan ketika sudah selesai membaca sesuatu sampai ujung paling akhir. Dalam makna ini, kadang kata "khatam" juga dibaca "khatim" yang artinya juga paling akhir.
Selain itu kata "khatam" juga bisa berarti cincin yang dipakai di jari. Makna ini adalah idola para Ahmadiyah sebab sepintas tak ada kaitannya dengan akhir kenabian sebab mereka berkepentingan memasukkan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi juga. Tapi ini penyelewengan makna, seperti nanti kita singgung.
Kata "khatam" bisa juga berarti segel, Dalam al-Qur'an, kalimat "khatamallah 'ala qulubihim" bukan diartikan Allah mengakhirkan hati mereka atau memberi hati mereka cincin. maknanya adalah Allah menyegel hati mereka sehingga tak bisa dapat hidayah.
Dari ketiga makna ini, yang saya kira paling tepat adalah makna terakhir, yaitu makna segel para Nabi. Alasannya sebab makna ini dapat mengakomodir kedua makna lainnya bersamaan. Di masa lalu, orang kalau membuat surat resmi selalu diberi segel (biasanya dari lilin) sebagai tanda keaslian. Segel ini selalu diletakkan setelah kalimat paling akhir. Kalau suratnya dibungkus, maka segel ini juga diletakkan di bungkusnya.. Dalam kasus Nabi, segel beliau berupa cincin yang bertuliskan "muhammad rasulullah". Klop sudah, ketiga makna tercakup semua.
Nabi Muhammad ibarat segel para Nabi. Ia adalah nabi terakhir sebab segel pasti diletakkan di akhir. Beliau adalah pelindung ajaran para nabi seperti segel yang melindungi keaslian apa yang ia segel. Beliau juga ibarat cincin segel yang bukan hanya berfungsi sebagai segel, tetapi juga jadi penghias yang indah di jari Nabi Muhammad sebab dengan beliaulah keindahan ajaran para nabi sebelumnya nampak sempurna.
Oleh: Gus Abdul Wahab Ahmad

0 Komentar